4 Jenis Pola Mengasuh dan Dampaknya untuk Anak

4 Jenis Pola Mengasuh dan Dampaknya untuk Anak – Tidak ada cara mudah untuk mengasuh anak. Juga tidak ada pula satu cara yang ‘benar’ untuk menjadi orang tua. Tetapi, apa pun itu, pola asuh akan berpengaruh pada karakter anak di masa depan.

Sejumlah psikolog anak telah lama meneliti tentang bagaimana pola asuh orang tua mempengaruhi perkembangan anak. Para peneliti mengatakan bahwa ada hubungan antara pola asuh dan perilaku anak di kemudian hari.

Salah satu teori yang sering banyak digunakan ditemukan oleh psikolog Diana Baumrind.

Dari penelitian ini, Baumrind berhasil mengemukakan tiga jenis pola asuh anak. Baumrind selalu menyarankan agar orang tua menggunakan salah satu dari tiga pola asuh yang berbeda ini.

Penelitian selanjutnya dilakukan oleh Eleanor Maccoby dan John. Kedua psikolog ini mengagaskan satu pola asuh terakhir dari tiga yang telah dikemukakan Baumrind terlebih dahulu.

Berikut empat pola asuh anak yang paling utama yang sudah Liputan7id rangkum.

Orang Tua Otoriter

Dalam pola asuh ini, anak diwajibkan untuk selalu mengikuti aturan ketat yang ditetapkan orang tua. Kegagalan mengikuti aturan umumnya akan berujung pada hukuman.

Tuntutan tinggi yang dipaksakan tidak sebanding dengan respons yang diberikan orang tua pada anak. Mereka hanya berharap agar si buah hati berperilaku baik dan tidak membuat kesalahan

Baumrind telah mencatat, orang tua dengan perilaku semacam ini berorientasi pada kepatuhan dan status. Mereka digambarkan sebagai sosok yang mendominasi bak diktator.

Baumrind menemukan di penelitiannya, anak yang diberikan dengan orang tua otoriter akan menjadi pribadi yang selalu patuh dan cakap. Tetapi sayang, walau cakap, anak cenderung menjadi pribadi yang tidak bahagia, tidak memiliki kemampuan sosial, dan memiliki harga diri yang rendah.

Orang Tua Demokratis

Layaknya otoriter, orang tua dengan pola asuh ini berusaha menerapkan aturan dan pedoman untuk si buah hati. Tetapi, pola asuh ini lebih demokratis ketimbang otoriter.

Orang tua berusaha untuk tetap responsif terhadap anak dan mau mendengarkan setiap pertanyaan dari si buah hati. Harapan besar pada anak sebanding dengan kehangatan dan dukungan yang diberikan.

Alih-alih menghukum, orang tua akan memaafkan dan tetap memberikan dukungan saat anak mengalami kegagalan.

Demokratis sering menjadi pola asuh yang tegas dan tidak harus membatasi anak, kebanyakan orang tua dengan pola asuh ini berharap agar anak dapat bersikap tegas di kemudian hari, memiliki tanggung jawab sosial, dan mandiri.

Kombinasi antara harapan dan dukungan ini membantu anak mengembangkan keterampilan seperti kemandirian.

Pola pengasuhan ini, tulis Baumrind, dapat mencetak pribadi yang bahagia dan gigih dalam mencapai sukses di masa depan.

Orang Tua Permisif

Pola permisif merupakan pola asuh terakhir yang diidentifikasi Baumrind. Orang tua permisif terkadang juga dikenal sebagai mereka yang gemar memanjakan dan memiliki sedikit tuntutan atau harapan untuk si buah hati.

Dalam catatan Baumrind, orang tua dengan pola seperti ini lebih responsif pada anak dibandingkan dua pola asuh sebelumnya. Pola asuh ini lebih modern, toleran dan menghindari konfrontasi.

Namun sayang, pola asuh ini seringkali mencetak pribadi yang tidak mandiri. Mereka cenderung mengalami masalah yang berkaitan dengan kekuasaan dan berkinerja buruk di lingkungan sosialnya.

Orang Tua Lalai

Dari pola asuh yang sudah dikemukakan oleh Baumrind, Psikolog Eleanor Maccoby dan John Martin juga berhasil menemukan gaya pengasuhan keempat. Pola asuh terakhir ini umumnya sama seperti kelalaian orang tua.

Dalam pola asuh ini, orang tua sama sekali tidak terlibat dengan apa pun yang terkait dengan anak. Orang tua tidak menuntut, tidak responsif, dan minim komunikasi.

Walaupun kebutuhan dasar anak sudah terpenuhi, tetapi umumnya mereka terlepas jauh dari kehidupan si buah hati. Mereka hanya memastikan bahwa anak mendapatkan asupan makan dan minum yang tepat, pulang ke rumah dengan aman, dan hal-hal mendasar lainnya. Sementara hal-hal yang bersifat dukungan emosional disebut nihil.

Dengan pola asuh seperti ini, anak cenderung tidak memiliki kontrol diri di kemudian hari. Pola asuh ini dapat mencetak anak dengan kepribadian dengan harga diri dan kompetensi yang rendah.