6 Orang Diringkus Polisi Ingin Gagalkan Pelantikan Jokowi

6 Orang Diringkus Polisi Ingin Gagalkan Pelantikan Jokowi – Polda Metro Jaya meringkus enam orang terkait upaya penggagalan pelantikan Presiden Jokowi dan Wakil Presiden Maruf Amin di Gedung DPR RI, Minggu (20/10).

Mereka adalah SH, E, FAB, RH, HRS, dan PSM. Keenam tersangka itu diketahui tergabung dalam sebuah grup WhastApp berinisial ‘F’ yang dibentuk oleh tersangka SH. Anggota grup WhatsApp itu diketahui berjumlah 123 orang.

Sebagai administrator, Samsul Huda (SH) membuat grup WA dan memasukkan beberapa member yang tujuannya untuk gagalkan pelantikan presiden dan wakil presiden.

“Tujuan dari grup WhatsApp itu untuk merencanakan aksi peledakan guna menggagalkan acara pelantikan Presiden dan Wapres terpilih,”ungkap Argo di Polda Metro Jaya, Senin (21/10/2019).

Argo mengatakan, keenam tersangka itu memiliki peran yang berbeda dalam perencanaan aksi tersebut.

Tersangka SH yang berprofesi sebagai mantan pengacara bertugas mencari dana untuk membuat bom ketapel. Ia juga bertugas untuk menyediakan ketapel jenis kayu dan besi serta membuat grup WhatsApp yang digunakan untuk melakukan koordinasi perencanaan aksi.

Kemudian, tersangka E yang berprofesi sebagai ibu rumah tangga, memiliki peran untuk membiayai pembelian ketapel, menyediakan tempat pembuatan ketapel, hingga menyediakan bahan peluru ketapel.

Lalu, tersangka FAB yang berprofesi sebagai wiraswasta berperan membuat peluru ketapel, menyediakan tempat untuk pembuatan peluru ketapel, hingga mendanai pembuatan bahan peledak senilai Rp 1,6 juta.

Tersangka keempat berinisial RH, perannya membuat ketapel dari kayu yang kemudian dijual ke tersangka SH. Tersangka SH diketahui sudah memesan 200 ketapel, namun baru 22 ketapel yang terjual. Satu ketapel dihargai Rp8.000.

Selanjutnya, tersangka HRS berperan sebagai penyandang dana pembuatan bom ‘peluru ketapel’. Ia diketahui telah memberikan uang senilai Rp400.000 kepada tersangka SH.

Terakhir, tersangka PSM berperan sebagai orang yang membeli ketapel besi secara online. Ia juga membeli karet pembuatan peluru dan plastik ekspolsif sebagai bahan peledak.

Argo mengatakan “Rencananya menggunakan ketapel dan bola karet. Dari hasil pemeriksaan dapat diketahui akan dipakai di Gedung DPR untuk menyerang aparat, akan diberikan ke demonstran.”

Tak hanya itu, bola karet tersebut ternyata dapat meledak. Sebab, bola karet tersebut mempunyai konsep seperti mercon banting dimana ada perantara bahan peledak di dalamnya.

Tersangka SH ini kita tangkap di daerah Jatinegara, sedang merakit peluru ketapel bersama E, sedangkan tersangka PSM berusaha lari dengan memanjat atap rumah,” ujar Argo.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono mengatakan kelompok tersebut masih berkaitan dengan dosen IPB yakni Abdul Basith (AB) yang juga merencanakan aksi peledakan saat aksi Mujahid 212 dan demonstrasi mahasiswa pada minggu akhir September lalu.

Atas perbuatannya, para tersangka dijerat Pasal 169 ayat 1 KUHP dan atau Pasal 187 ayat 1 Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1992 Undang-Undang Darurat dengan ancaman hukuman lima sampai dua puluh tahun penjara.