68 Orang yang kembali dari Cina Dikarantina Sendiri di Sumatera Utara

68 Orang yang kembali dari Cina Dikarantina Sendiri di Sumatera Utara – Enam puluh delapan orang yang baru saja kembali dari Tiongkok menjalani karantina sendiri di rumah mereka selama 14 hari di Sumatera Utara untuk mencegah kemungkinan wabah koronavirus.

Kepala kontrol karantina Otoritas Kesehatan Pelabuhan Medan (KKP), Rahmad Ramadhan Nasution, mengatakan kepada The Jakarta Post pada hari Selasa bahwa warga negara asing termasuk di antara mereka yang kembali dan sedang diamati oleh badan kesehatan di provinsi tersebut.

“Semua 68 orang tersebar di beberapa daerah di Sumatera Utara. Untuk saat ini, mereka telah menandatangani perjanjian untuk melakukan karantina sendiri dan untuk selalu menggunakan masker medis, ”kata Rahmad.

Coronavirus baru telah menginfeksi lebih dari 42.000 orang dan menewaskan lebih dari 1.000 orang di daratan Cina, menyusul kematian global dalam epidemi Syndrome Respiratory Syndrome (SARS) 2002-2002 yang parah. Kasus-kasus juga telah dilaporkan di dua lusin negara lain.

Kepala Dinas Kesehatan Sumatera Utara Alwi Mujahit Hasibuan mengatakan, mereka yang kembali harus tetap tinggal di rumah mereka sendiri selama 14 hari dan sedang dipantau oleh agensi dan KKP.

“Kami akan mengamatinya selama 14 hari dan sementara itu, mereka dilarang meninggalkan rumah mereka,” katanya.

Dia menambahkan bahwa selama periode pengamatan, agensi dan KKP dapat mengirim tim untuk memantau perkembangan kesehatan para pengungsi setiap saat.

“Bisa harian, dua kali sehari, atau seminggu sekali tergantung persyaratan,” katanya.

Dia juga menyuruh masyarakat untuk tetap tenang karena pengungsi yang kembali dikarantina dikatakan dalam kondisi baik.

Meskipun tidak ada infeksi coronavirus yang telah dilaporkan di Indonesia, para pakar kesehatan telah menyatakan keprihatinan atas kemungkinan kasus yang tidak terdeteksi di negara ini.

Sebuah studi baru-baru ini yang dilakukan oleh para peneliti di Universitas Harvard telah menyarankan bahwa Indonesia seharusnya sudah mengkonfirmasi kasus virus corona baru, mengingat tingginya volume perjalanan udara dari Wuhan, pusat penyebaran di Cina, ke negara tersebut.

Studi yang telah diuji coba oleh seluruh para peneliti di Harvard TH Chan School of Public Health, akhirnya berhasil untuk mengungkapkan bahwa nol kasus Indonesia yang dikonfirmasi “mungkin menunjukkan potensi kasus yang tidak terdeteksi di lokasi-lokasi ini dan mengingat hubungan yang diharapkan sebelum beberapa langkah pengendalian perjalanan dilaksanakan”.

Namun, penelitian ini belum ditinjau oleh sejawat. Hasil penelitian terseburt diterbitkan pada medRxiv server pra-cetak pada 5 Februari.

Kementerian telah berulang kali menepis kekhawatiran ini. Direktur pencegahan dan pengendalian penyakit menularnya, Wiendra Waworuntu, mengatakan Indonesia telah belajar dari perjumpaan sebelumnya dengan wabah, termasuk wabah SARS 2002-2003.