80 Tersangka Penipuan Menghadapi Deportasi ke China

80 Tersangka Penipuan Menghadapi Deportasi ke China – Unit investasi khusus Kepolisian Jakarta telah mengirim 80 warga negara Tiongkok yang dituduh menjalankan skema penipuan ke Direktorat Jenderal Imigrasi Kementrian Hukum dan Hak Asasi Manusia untuk kemungkinan deportasi.

Setelah penangkapan 85 tersangka penipu China awal pekan ini, penyelidikan menemukan bahwa hanya 80 orang diyakini terlibat dalam skema penipuan yang menargetkan orang-orang di Cina daratan, direktur unit kejahatan khusus Kepolisian Jakarta Sr. Comr. Kata Iwan Kurniawan.

“Hasil penyelidikan menunjukkan bahwa hanya 80 orang yang terlibat dalam sindikat penipuan online. Orang-orang ini telah dikawal ke Dektorat Jenderal Imigrasi untuk diproses lebih lajut,”kata Iwan pada hari Kamis seperti dikutip oleh Antara.

Dia mengatakan lima warga negara Cina lainnya telah dibebaskan. Mereka awalnya dicurigai oleh polisi karena alat komunikasi mereka telah diretas.

Pemerintah Cina telah secara resmi meminta bantuan Polda Metro Jaya dalam mendeportasi para scammer ke Cina, kata Iwan.

“Kami telah menerima permintaan dari pemerintah Tiongkok dan kedutaan besar China untuk membantu menangkap para scammer karena para korban kebanyakan adalah orang-orang di daratan Cina,” katanya.

Personel polisi menangkap para scammer pada hari Senin saat penggerebekan di enam lokasi berbeda di Jabodetabek dan lokasi lain di Malang, Jawa Timur.

85 warga negara Tiongkok dan enam orang Indonesia ditangkap. Keenam orang Indonesia itu kemudian dibebaskan.

Para tersangka, yang memasuki Indonesia dengan visa perjalanan, dituduh menjadi bagian dari sindikat kejahatan dunia maya yang mungkin juga beroperasi di Malaysia.

Menurut polisi, mereka diduga menipu orang-orang di China dengan berpura-pura menjadi tokoh otoritas, seperti petugas polisi, jaksa atau bankir, dan mengklaim bahwa mereka dapat menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan polisi, pengadilan atau bank dengan imbalan uang.

Namun, setelah para korban mentransfer uang ke rekening bank yang berlokasi di daratan Cina, mereka tidak pernah dihubungi lagi.

Kapolres Jakarta, Ir. Jenderal Gatot Eddy Pramono mengatakan para tersangka telah menghasilkan sekitar Rp36 miliar (US $ 2,5 juta) dari para korban mereka.

Juru bicara Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Yusri Yunus mengatakan, polisi melacak para tersangka menggunakan alamat IP komputer mereka.

“Para tersangka telah membangun jaringan di China daratan. Kami melacak mereka menggunakan alamat IP mereka. Mereka memilih Indonesia sebagai tempat untuk melakukan kejahatan mereka karena mereka sudah dikejar oleh penegak hukum Tiongkok,” kata Yusri pada hari Selasa.

Dari penggerebekan Malang dan Jakarta, polisi menyita banyak bukti, termasuk 192 ponsel dan 39 kartu SIM. Iwan menjelaskan bahwa polisi Jakarta akan siap bekerja sama dengan penegak hukum Tiongkok untuk membantu menyelesaikan kasus ini, termasuk menyerahkan keenam orang Indonesia sebagai saksi.