Balita di Malang Tewas Diinjak Ayah Tiri

Balita di Malang Tewas Diinjak Ayah Tiri – Balita malang bernama Agnes Arnelita (3) dilaporkan tewas tenggelam di bak mandi oleh ayah tirinya, Erik Ady Anwar, warga perumahan Telogowaru Indah Nomor D 14, Kota Malang, Rabu (30/10/2019) sore. Saat dibawa pulang ke rumah neneknya di Desa Sumbersekar, Kecamatan Tajinan, Kabupaten Malang, untuk dimandikan dan dimakamkan, keluarga menemukan adanya kejanggalan seperti adanya banyak luka di sekujur tubuh Agnes, mereka menduga Agnes tewas karena dianiaya. Atas kecurigaan itu, pihak keluarga kemudian melaporkan dugaan penganiayaan ke polisi.

Sementara dari hasil autopsi ditemukan ada luka robek di lambung korban hingga mengalami perdarahan. Luka ini diduga kuat akibat tekanan yang sangat keras.

Luka tersebut, kata dia, yang membuat nyawa korban tak tertolong. Untuk menutup alibinya, tersangka mengaku seolah-olah korban tenggelam di bak mandi saat mandi sendiri.

Kami sudah melakukan penahanan Egy Age Anwar (36), ayah tiri dari balita yang dilaporkan tenggelam sebagai tersangka ” tandas Kapolres Malang Kota AKBP Dony Alexander.

AKBP Dony Alexander menyatakan, dalam pengakuannya tersangka risih karena korban BAB di celana. Tersangka kemudian meminta korban untuk pergi ke kamar mandi, dan tidak lama tersangka menyusul untuk mengguyurkan air ke tubuh korban.

“Tersangka mengaku kesal, korban BAB di celana. Hal itulah yang memicu, tersangka emosi dan menginjak punggung dan perut korban saat terjatuh di kamar mandi. Perlakuan itu, yang mengakibatkan adanya pendarahan pada bagian usus besar,”

Kapolres Malang Kota AKBP Dony Alexander saat konferensi pers di Mapolres Jalan Jaksa Agung Suprapto, Jumat (1/11/2019). Pelaku melakukan kekerasan dengan alasan ingin memberikan pelajaran dengan cara menginjak sebanyak dua kali yaitu punggung dan perut. “Pelaku mengakui telah membakar kaki korban dengan alasan korban menggigil,” kata Barung, “sambungnya.

Dari keterangan tersangka, lanjut kapolres, korban dikatakan sudah seringkali BAB sembarangan. Kondisi itulah, yang menyebabkan tersangka kesal dan memperlakukan korban tak sewajarnya. Dia menambahkan, penyidikan yang dilakukan Unit PPA ikut mengungkapkan, jika perlakuan kasar seringkali dialami korban selama tinggal bersama tersangka.

“Perlakuan kasar dengan mencubit korban, sering dilakukan oleh tersangka. Jadi memang bukan pertama kali kekerasan pernah dialami korban. Yang terakhir dilakukan tersangka sampai korban meninggal dunia,” beber Dony.

Polres Malang Kota menyita satu kompor gas sebagai barang bukti. Alat itulah yang digunakan tersangka untuk membakar kaki korban, ketika mengeluh kedinginan.

“Tersangka kami jerat Pasal 80 ayat 3 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang perlindungan anak, dengan ancaman hukuman 15 sampai 20 tahun penjara,” pungkas Dony.