Beberapa Fakta Roket Simorgh Iran yang Gagal Bawa Satelit ke Orbit

Beberapa Fakta Roket Simorgh Iran yang Gagal Bawa Satelit ke Orbit – Teranyar, Iran dirumorkan telah gagal untuk menempatkan satelit Zafar ke orbit setelah roket Simorgh gagal untuk mencapai kecepatan yang dibutuhkan untuk menaruh satelit ke orbit.

Defense Update melansir bahwa Simorgh yang dikenal dengan sebutan Safir-2 adalah roket yang dirancang untuk dapat membawa muatan sebesar 350 kilogram ke orbit. Simorgh diketahui memiliki panjang 27 meter, lebar 2,5 meter, serta berat 87 ton.

Mirip Roket Korea Utara

Badan intelijen Amerika Serikat mempercayai bahwa Simorgh merupakan roket yang dibuat atas dasar teknologi roket Hwasong-1 atau Nodong-1 buatan Korea Utara.

Melansir Missile Threath, Simorgh merupakan kendaraan peluncur ruang angkasa (SLV) yang berbahan bakar cair yang dapat terbang hingga ketinggian 500 kilometer. Simorgh menggunakan mesin dari rudal balistik jarak menengah Shahab-3 yang dibuat oleh perusahaan pertahanan Iran (DIO).

Sementara Nodong adalah rudal balistik seperti Shahab-3 yang menggunakan bahan bakar cair. Dalam peluncuran September 2016, Nodong dapat terbang hingga jarak 1.000 km. Sejumlah laporan menunjukkan bahwa Korut menerima bantuan dari ilmuwan Rusia dan Cina saat membuat rudal tersebut.

Dua Kali Gagal Uji Penerbangan

Simorgh pernah melakukan uji penerbangan sebelum akhirnya gagal untuk membawa satelit Zafar menuju orbit. Tetapi, kedua uji penerbangan tersebut juga diketahui mengalami kegagalan.

Tepatnya, pada bulan April 2016 atau pada peluncuran perdananya, Simorgh juga diketahui gagal untuk melaksanakan uji penerbangan suborbital.

Sedangkan kegagalan kedua terjadi pada bulan Juli 2017. Sumorgh yang meluncur dari Pusat Antariksa Imam Khomeini diketahui mengalami kegagagalan katastropik dan akhirnya meledak sebelum mencapai ruang angkasa. Tidak ada satelit yang dibawa saat peluncuran tersebut.

Roket Kedua

Simorgh adalah roket SLV yang kedua dalam rencana mandiri Iran untuk menempatkan satelit ke luar angkasa. Diketahui Iran sudah memulai misi mandirinya itu dengan membentuk suatu organisasi yaitu Iranian Space Agency atau ISA pada tahun 2004.

Sebelum meluncurkan Sumorgh, Iran diketahui telah membuat sebuah roket bernama Safir. Walaupun gagal dalam uji peluncuran perdana, Safir akhirnya mampu menaruh satelit pertamanya di orbit pada tahun 2019.

Hal itu sekaligus menempatkan Iran sebagai negara kesembilan yang dapat menempatkan satelit ke orbit dengan teknologi sendiri.