Beberapa Faktor Penentu Hasil Akhir Derby Milan

Beberapa Faktor Penentu Hasil Akhir Derby Milan – Derby Milan jilid 2 di Serie A pada musim ini berlangsung sangat spektakuler, pada hari Senin (10/2/2020). AC Milan berhasil terlebih dahulu memimpin dengan skor 2-0 di babak pertama, namun Inter Milan berhasil bangkit setelah jeda dan berbalik unggul dengan skor akhir 4-2.

Klub berjuluk Rossoneri berhasil unggul melalui gol-gol dari Ante Rebic pada menit 40 dan Zlatan Ibrahimovic pada menit 45. Akan tetapi, Nerazzuri berhasil membalikan keadaan melalui skor yang berhasil diciptakan oleh Marcelo Brozovic (51′), Matias Vecino (53′), Stefan de Vrij (70′), dan Romelu Lukaku (90’+3).

Ada beberapa faktor yang terbilang sangat menentukan hasil akhir pertandingan derby Milan di San Siro tersebut. Ini adalah rangkumannya.

Milan Ambruk di Babak Kedua

“Memang sulit untuk dapat menjelaskan apa yang telah terjadi,” ucap Ibrahimovic.

“Disaat jeda, kami berbicara kepada diri sendiri, setelah 15 menit pertama kembali ke lapangan akan krusial. Akan tetapi, di menit 15 itu kami malah kebobolan dua gol.”

“Kami sudah berhenti bermain, tim sudah tidak lagi percaya, kami sudah berhenti melakukan passing, tidak cukup untuk mengalirkan operan. Setelah gol balasan tersebut, semuanya ambruk.”

Pengalaman

Faktor pengalaman juga sangat berperan penting dalam pertandingan seperti ini. Hal itu memang diakui oleh Ibrahimovic.

“Saya rasa ini memang lebih ke pengalaman, karena Anda harus terlebih dahulu mengetahui bagaimana cara mengontrol pertandingan setelah berhasil unggul 2-0, memang bukan hanya tentang memenangkan pertandingan saja.”

Pelatih AC Milan, Stefano Pioli juga bersuara senada.

“Inter memang merupakan tim yang sangat jauh lebih berpengalaman dari kami, dan mungkin lebih terbiasa memainkan laga-laga seperti ini,” kata Pioli. “Hal itu yang menyebabkan mereka dapat kembali bangkit.”

Tidak dapat Bertahan

Kebobolan sebanyak empat gol dalam babak kedua memang jelas merupakan sebuah catatan buruk untuk Milan. Itu adalah buah dari keburukan mereka yang tidak dapat bertahan.

“Kami harus dapat bertahan dengan baik, namun kami tidak dapat untuk melakukannya,” ungkap Pioli.

“ini adalah babak pertama terbaik sepanjang musim, namun kami kalah derby setelah berhasil unggul. Kami perlu membangunnya. Pertandingan ini harus dianalisis kembali secara keseluruhan.”

“Kami seharusnya tidak membiarkan Brozovic tidak terkawal di ujung kotak dan dalam posisi bebas, dan kami juga tidak boleh membiarkan Alexis Sanchez menerobos perangkap offside. Kami mengetahui semua itu, dan kami harus melakukannya dengan benar.”

“Saya harus marah. Saya memang harus kecewa. Saya perlu menanamkan ini di pikiran para pemain, bahwa mereka mampu melakukan hal-hal hebat apabila menghindari kesalahan-kesalahan seperti ini,” ungkapnya.

Koreksi Conte Saat Jeda

Inter tampil sangat buruk di babak pertama, bukan seperti tim papan atas. Namun, mereka menunjukkan kepantasannya untuk dapat bersaing dalam perburuan Scudetto dengan performa di babak kedua.

Pelatih Inter, Antonio Conte, harus diberikan pujian untuk koreksi-koreksi yang diberikannya kepada tim yang dia lakukan saat jeda.

“Dalam babak pertama, mereka memang membuat kami berada dalam kondisi yang benar-benar sangat menyulitkan, atau mungkin lebih sulit dibandingkan semua yang telah kami alami di musim ini, dan kami kemungkinan akan dihajar,” kata Conte.

“Namun, kami telah berhasil untuk mengembalikan keseimbangan, mengetahui sektor apa yang harus segera diperbaiki, dan yakin dengan apa yang kami lakukan. Para pemain pantas dipuji.”

“Selain hasilnya, saya juga senang melihat mereka menolak jatuh walaupun dipukul, kemudian dapat untuk membalikkan keadaan. Hal itu berarti mereka siap untuk sesuatu yang benar-benar penting.”

Dua Gol Cepat

Dua gol cepat untuk dapat menyamakan skor menjadi 2-2 oleh Brozovic dan Vecino terbilang krusial. Itu mengubah mentalitas mereka.

“Kami memang bermain buruk di babak pertama, dan Milan pantas memimpin,” kata de Vrij. “Tetapi, kami bertekad bertarung setelah jeda, dan langsung mencetak dua gol.”

“Mentalitas kami berubah.”

Elemen-elemen Nonteknis

Inter dan juga Milan memang memiliki skuad yang ditempati oleh sederet pemain bertalenta. Tetapi, untuk laga sekelas derby ini, talenta atau strategi dari sang pelatih saja tidak akan cukup untuk dapat menentukan kemenangan.

Berbagai elemen-elemen nonteknis, seperti layaknya keinginan kuat untuk meraih kemenangan, juga sangat diperlukan.

“Kami dihadapakan pada situasi sulit, namn kami membuktikan bahwa kekuatan kami bukan cuma di sepak bola, tapi juga karakter,” tutur de Vrij.

“Ini adalah pemain-pemain bertalenta. Tetapi, pertandingan seperti ini juga membutuhkan sesuatu yang lain, yaitu determinasi, rasa lapar, hingga karakter. Kami membuktikan kalau kami juga memiliki elemen-elemen itu

Mentalitas

Tim Inter yang ini memiliki mentalitas menjadi tim pemenang. Itulah kunci penting lainnya.

“Babak kedua benar-benar sangat indah,” kata Lukaku. “Kami memang terlalu memberi mereka banyak ruang pergerakan di babak pertama, dan Milan pantas diberi selamat untuk performa mereka di babak pertama.”

“Kami bermain dengan level intensitas yang berbeda setelah jeda, dan memang pantas untuk mendapatkan kemenangan ini.”

“Babak pertama memang sangat menyulitkan bagi kami, tetapi semua orang di stadion dapat melihat mentalitas dari tim Inter ini, bagaimana kami menolak menyerah dan memiliki hasrat untuk menang.”

Menurut Liputan7id, apa kesalahan terbesar AC Milan hingga akhirnya dapat di-comeback Inter? Tuliskan pendapat kalian melalui kolom komentar di bawah ini.