Beberapa Gaya Hidup Orang Dayak di Desa Budaya Pampang

Beberapa Gaya Hidup Orang Dayak di Desa Budaya Pampang – Meskipun berada di zaman yang serba canggih, eksistensi masyarakat Suku Dayak tidak pernah tergerus. Mereka pun ikut bertahan hidup di pedalaman atau di kota-kota besar Kalimantan, seperti Samarinda.

Di pinggiran Kota Samarinda, ada Suku Dayak Kenyah yang tinggal di Desa Budaya Pampang. Wisatawan dapat mengunjungi desa tersebut jika penasaran dengan kebiasaan sehari-hari Suku Dayak.

Dari pusat kota Samarinda, membutuhkan waktu sekitar 1,5 jam untuk dapat sampai di Desa Budaya Pampang. Anda akan melintasi jalanan penuh tikungan tajam, dengan pemandangan hutan hijau khas Kalimantan.

Setelah tiba di desa tersebut, beberapa masyarakat setempat dari anak muda sampai orang tua menyambut kedatangan kami. Sebagai simbolisasi penerimaan kedatangan kami ke sana, diberikan percikan air suci yang bermakna penuh kedamaian di Rumah Lamin, sebuah rumahnya besar yang difungsikan menjadi rumah adat Dayak.

Rumah Lamin memiliki nuansa masih tradisional, karena memiliki dinding dan lantai kayu. Ditambah dengan interior mirip Burung Enggang asli Kalimantan, warnanya merah dan kuning terang.

Dijelaskan oleh Ketua Kesenian Desa Budaya Pampang Liang Along, masyarakat Dayak Kenyah pada tahun 1970-an datang ke pinggiran Kota Samarinda dari daerah perbatasan Malaysia. Mereka datang untuk menikmati kemerdekaan Indonesia, yang diraih pada tahun 1945.

“Kami datang untuk mendekatkan diri dengan kota demi untuk dapat menikmati kemerdekaannya kita. Selain itu dekat juga dengan pengobatan medis, maka itulah yang mendorong orangtua datang ke sini,” kata Liang Along di Desa Budaya Pampang, Samarinda.

Kegiatan sehari-hari masyarakat Dayak di sini tidak lain yaitu bergotong royong. Mulai dari berburu, bercocok tanam, memancing, serta beberapa aktivitas lain di luar rumah. Malahan, sebagian masyarakat ditunjuk untuk mencari jalur batu bara yang melimpah sekali. Dari situlah, masyarakat Dayak sangat bersyukur tinggal di Tanah Air yang kaya dan sangat subur.

Masyarakat Dayak juga rela ikut melestarikan budaya khas setempat, yang membanggakan untuk Indonesia. Di sana banyak jenis tarian dan alat musik tradisional, yang masih dipertahankan.

Sebagai bukti, Kami pun diajak menari oleh para gadis-gadis Dayak yang cantik jelita. Tariannya bernama anyam tali, sangat unik karena sambil menari, kami harus mengikat tali.

Ternyata selama menari ada gerakan khusus, yang dapat sekaligus mengikat tali panjang warna-warni digandung. Buat pertama kalinya mencoba pasti akan ketagihan. Saat menari, Kita juga harus tahu ketepatan gerakan tari dengan arah tertentu. Anda harus bergerak sampai talinya terikat, bersama sekira 7 penari lainnya.

“Tarian ini mempunyai makna agar dapat mempererat budaya kami dan membawa kedamaian. Setiap perempuan di sini memang harus bisa menari, karena mereka diajak ikut melestarikan budaya tarian Dayak,” ucap Liang Along.

Setelah puas menari, waktunya berpisah dengan masyarakat Dayak Kenyah. Tetapi, sebagai kenang-kenangan, Kami foto sejenak memakai baju adat Dayak, lengkap dengan aksesorisnya. Para gadis Dayak juga boleh diajak berfoto lho.

Sebelum meninggalkan area Desa Budaya Pampang, sangat beruntung karena dapat bertemu dengan nenek kuping panjang.

Nenek Priya namanya, berusia sekira 70 tahunan. Sang nenek punya kuping panjang, karena pakai banyak anting sejak lama. Melihatnya unik dan kagum deh!

Memang, perempuan Dayak yang sudah sepuh ini rata-rata punya telinga panjang. Namun sayangnya, tradisi ini nampaknya tidak dilanjutkan oleh perempuan muda Dayak zaman sekarang.