Beberapa Hal yang Dapat Berubah Dalam Hubungan Setelah Mempunyai Buah Hati

Beberapa Hal yang Dapat Berubah Dalam Hubungan Setelah Mempunyai Buah Hati – Menjadi orang tua bukanlah sebuah perkara yang mudah. Selain memiliki tanggung jawab baru untuk mengasuh anak, cara menjalani hubungan dengan pasangan juga ikut mengalami perubahan.

“Sebelum saya dan suami saya, Jery, memiliki bayi, kami tidak pernah bertengkar. Lalu saat kami punya bayi, kami bertengkar setiap saat,” tutur Jancee Dunn, seorang ibu sekaligus penulis buku How Not to Hate Your Husband After Kids.

Kehadiran si Kecil memang membawa kebahagiaan, tetapi tidak dapat untuk dipungkiri kualitas hubungan Anda dan pasangan bisa jauh berkurang karena kesibukan mengurus anak yang tiada henti.

Kondisi ini seringkali membuat pasangan tidak lagi merasa diperhatikan dan akhirnya perselisihan lebih sering terjadi.

Tracy K. Ross, terapis pasangan dan keluarga di Redesigning Relationships di New York mengungkapkan, “masalah dalam hubungan yang tidak ditangani akan membuat keadaan semakin memburuk.”

Untuk menghindari hal tersebut, berikut sejumlah hal yang kerap berubah dalam hubungan setelah memiliki anak dan bagaimana cara mengatasinya, mengutip Healthline.

Komunikasi berkurang

Sebelum kehadiran dari sang buah hati, biasanya obrolan dengan pasangan akan lebih beragam dan personal. Tetapi saat sudah memiliki anak, tidak sedikit orang yang merasa kurang terhubung dengan pasangannya karena komunikasi yang dilakukan akhirnya hanya mengenai si kecil.

Untuk kembali terhubung dengan pasangan, cobalah untuk mencari waktu untuk membicarakan hal-hal yang lebih personal dengan pasangan, misalnya saat anak sedang tertidur lelap.

“Saya dan suami meluangkan waktu 15 menit setiap hari untuk berbicara tentang apapun kecuali soal anak dan kebutuhan rumah tangga,” kata Dunn.

Waktu berdua jadi terbatas

Setelah memiliki bayi, meluangkan waktu berdua menjadi sulit untuk dilakukan karena sebagian besar waktu sudah terhabiskan untuk merawat anak. Karena hal ini, tidak jarang pasangan yang akhirnya merasa bosan satu sama lain.

“Kalian dapat membuat suatu rencana untuk pergi meluangkan waktu berdua, namun yang realistis,” ungkap Ross. “Sebelum pergi berdua, pastikan ada pengasuh atau keluarga yang siap untuk menjaga si kecil.”

Tetapi, jika membuat rencana pergi berdua sudah tidak memungkinkan, Anda juga dapat menghabiskan waktu berdua dengan pasangan saat anak sudah tidur di malam hari. Cobalah untuk melakukan kegiatan sederhana bersama pasangan, seperti berjalan-jalan di kompleks perumahan atau menonton film di ruang keluarga berdua.

Aktivitas seksual yang terlupakan

Kesibukan baru sebagai orang tua juga setiap kali membuat pasangan merasa terlalu lelah untuk berhubungan seksual, sehingga hubungan seksual sudah tidak menjadi prioritas dan akhirnya terlupakan.

Padahal, berkurangnya hubungan seksual dapat mengurangi jalinan emosional antar pasangan. Sehingga menyempatkan waktu untuk bercinta tetaplah penting.

Menurut Ross, komunikasi merupakan kunci untuk mengatasi aktivitas seksual yang menurun. Anda dan pasangan perlu untuk berkomunikasi dan menemukan waktu yang tepat demi mencapai kepuasan seksual, seperti saat anak sedang tidur atau sekolah.

Berbagi tanggung jawab baru

Merasa sangat tertekan dengan tanggung jawab baru yaitu mengurus anak yang tidak adil sering kali menjadi awal permasalahan dalam rumah tangga. Menurut Dunn, sebagian besar ibu merasa jengkel ketika pasangannya tidur pulas ketika si kecil menangis di tengah malam.

Tetapi, hal ini terjadi bukan tanpa alasan. Sebuah penelitian pada tahun 2013 yang dilakukan oleh National Institutes of Health mengungkapkan bahwa ketika mendengar bayi menangis, pola aktivitas otak wanita akan beralih ke mode waspada sedangkan otak pria akan tetap dalam mode istirahat.

Dibandingkan berdebat dengan pasangan karena hal ini, lebih baik menentukan bersama tanggung jawab masing-masing dalam mengurus anak, dengan begitu perdebatan dan pertengkaran akan terkendali dan dapat terhindarkan.

Kurang me-time

Kesibukan dalam mengurus sang buah hati juga sering membuat orang tua lupa untuk menghabiskan waktu sendiri atau me time. Padahal sebagai individu, kita perlu melakukan me time agar terhindar dari stres.

Menginginkan waktu me-time merupakan hal yang wajar, maka dari itu bicarakan hal ini dengan pasangan. Ross menyarankan agar orang tua untuk berdiskusi serius tentang bagaimana masing-masing dari orang tua dapat memiliki waktu me time setidaknya dua minggu sekali.

Perbedaan pendapat dalam mengurus anak

Anda dan pasangan merupakan dua individu yang tentu saja berbeda pemikiran, maka hal yang wajar jika terjadi perbedaan pendapat saat mengurus anak.

Tapi, Anda dan pasangan perlu untuk selalu mengingat bahwa untuk menjadi orang tua yang baik, diperlukan kerja sama dalam tim dan bukan mementingkan pendapat masing-masing.

Mengurus anak bukan soal mana yang benar ataupun salah, menang atau kalah, namun bagaimana Anda dan pasangan dapat membuat keputusan yang terbaik untuk anak dan demi keluarga kecil yang sedang Anda berdua jalani.