Dilema Demokrasi: Tito Mengatakan Negara-negara yang tidak Demokratis Memiliki Pertumbuhan Ekonomi yang Lebih Baik

Dilema Demokrasi: Tito Mengatakan Negara-negara yang tidak Demokratis Memiliki Pertumbuhan Ekonomi yang Lebih Baik – Menteri Dalam Negeri Indonesia Tito Karnavian telah menyarankan bahwa negara-negara yang tidak demokratis lebih makmur secara ekonomi daripada negara-negara demokratis.

Selama kongres ke-6 untuk anggota Asosiasi Pemerintah Provinsi Indonesia (APPSI) pada hari Selasa, Tito memberikan pidato di mana ia mengatakan bahwa demokratis tidak selalu berjalan seiring dengan perkembangan ekonomi suatu negara.

Demokrasi barat seperti Amerika Serikat dan negara-negara Eropa, misalnya, telah lama mengadopsi sistem demokrasi untuk pemerintahan mereka, tetapi mereka melihat pertumbuhan ekonomi agak stagnan, kata Tito.

“Tampaknya ada dilema atas demokrasi, karena negara yang tidak mengadopsi sistem demokrasi melihat ekonomi pertumbuhan mereka melompat,”kata Tito. “Vietnam, misalnya adalah republik sosialis dan ekonominya meningkat.”

Pensiunan jenderal polisi itu juga memberikan contoh Thailand ekonomi terbesar kedua di Asia Tenggara setelah Indonesia yang berada di bawah pemerintahan junta militer dari 2014 hingga awal tahun ini.

Menurut Tito, ekonomi sesama negara ASEAN itu bergerak maju ketika militer memegang kekuasaan. “Supremasi sipil di Thailand diambil alih oleh aturan junta militer dan ekonomi mereka maju,”katanya, seraya menambahkan bahwa fenomena serupa telah terjadi di Mesir, yang diperintahkan oleh junta militer setelah presiden yang terpilih secara demokratis digulingkan.

Menteri kemudian mengutip contoh China, yang telah menjadi salah satu negara dengan pertumbuhan ekonomi tercepat di dunia, meskipun tanpa mengadopsi sistem politik yang demokratis.

“Tiongkok adalah negara satu partai. Itu bukan demokrasi, namun ekonomi tumbuh dengan cepat, “kata Tito seraya menambahkan bahwa pertumbuhan ekonomi China terus mengikuti di belakang dan mungkin melampaui AS yang masih mempertahkankan statusnya sebagai ekonomi terbesar di dunia.

Maju cepat 20 tahun, Tito mengatakan dia mengunjungi dua kota pada tahun 2018 dan melihat sungai yang sama dengan air bersih, dan bahwa Beijing sudah memiliki perasaan yang mirip dengan Washington DC, sedangkan Shaghai mirip dengan New York.

Di depan Gubernur Jakarta Anies Baswedan, yang juga menghandiri acara hari Selasa, Tito bahkan bercanda tentang bagaimana Jakarta saat ini tampak seperti kampung dibandingkan dengan Shanghai di Cina.

“Jika kita melihat lebih baik, Jakarta terlihat seperti kampung dibandingkan dengan Shanghai,” kata Tito.