Dua tersangka Pembuat Bom di Medan Ditembak Mati di Deli Serdang

Dua tersangka Pembuat Bom di Medan Ditembak Mati di Deli Serdang – Dua pria yang ditembak mati pada hari Sabtu di Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, diduga merupakan perakit bom yang baru-baru ini meledak di markas Kepolisian Medan.

Kepala Kepolisian Sumatera Utara Insp. Jenderal Agus Andrianto mengatakan keduanya ditembak dalam pertempuran senjata dengan pasukan kontraterorisme polisi Densus 88 ketika sebuah tim menyerang empat tersangka, termasuk dua yang ditembak, ketika mereka sedang mengendarai sepeda motor di sebuah jalan di distrik Hamparan Perak di kabupaten itu.

Satu tersangka ditahan sementara yang lain melarikan diri ke perkebunan terdekat.

“Bom yang mereka kumpulkan digunakan oleh [seorang pembom bunuh diri] untuk menyerang markas besar Kepolisian Medan,” kata Agus.

Seorang pria yang mengaku sebagai sopir ojek on-demand masuk ke kantor polisi pada hari Rabu dan meledakkan dirinya, bunuh diri dan melukai enam lainnya. Polisi sejauh ini menyebutkan 18 tersangka, termasuk istri pelaku bom bunuh diri. Juga pada hari Sabtu, polisi menahan dua tersangka lainnya di Medan dan tiga tersangka di Aceh.

Sehari sebelum operasi di Hamparan Perak, tim gabungan Densus 88 dan Kepolisian Sumatera Utara menemukan gubuk yang diduga digunakan pusat operasi kelompok teroris di Kecamatan Sicanang di Medan. Juga diduga bahwa kelompok itu telah mengumpulkan bahan peledak di gubuk.

Djuhadi, 75, seorang penduduk di Sicanang, mengatakan pondok yang diidentifikasi polisi sebagai pusat operasi kelompok itu sebenarnya adalah rumah seseorang yang dibiarkan kosong selama empat hingga lima tahun.

“Para anggota kelompok telah mengubah tempat itu menjadi tempat belajar Al-Quran dan juga tempat untuk berlatih memanah,” katanya.

Djuhadi mengatakan ada sekitar 20 orang dalam kelompok yang sering mengunjungi rumah itu dan para pemimpin mereka diidentifikasi sebagai penduduk lokal.

Di Palu, Sulawesi Tengah, Kepala Kepolisian Republik Indonesia Jenderal Idham Azis mengatakan para tersangka yang ditahan berasal dari Sumatera Utara, Riau, Ambon, Banten, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.

“Kami masih bekerja keras untuk mengungkap jaringan karena, sebenarnya, pelaku juga adalah korban,” katanya.