Harimau Sumatra yang Terancam Punah Ditemukan Mati dengan Leher Tersangkut di Perangkap Kawat

Harimau Sumatra yang Terancam Punah Ditemukan Mati dengan Leher Tersangkut di Perangkap Kawat – Seekor harimau betina telah ditemukan mati dalam perangkap kawat di hutan di Kabupaten Seluma, Bengkulu, dalam insiden lain yang menarik perhatian pada spesies yang sudah terancam punah.

Ridwan, seorang warga desa dari desa Selingsingan, menemukan bangkai harimau ketika ia sedang mencari kecambah rotan di hutan Bukit Badas pada hari Rabu pagi.

Dia menghentikan kegiatannya setelah melihat bangkai yang terletak kira-kira 6 kilometer dari desa dan segera kembali ke rumah untuk melaporkan temuannya kepada kepala desa.

“Kami sudah memeriksa lokasi dan menemukan seekor harimau betina yang mati dengan seutas kawat melilit lehernya,” Kepala unit kejahatan khusus Kepolisian Seluma Inspektur Kedua. Catur Teguh Susanto, Kamis.

Berdasarkan pemeriksaan polisi, tidak ada bagian tubuh harimau yang hilang. Namun, kepala bangkai itu membusuk begitu polisi tiba.

“Itu penuh dengan belatung. Kami berasumsi bahwa harimau tersebut telah mati selama lebih dari enam hari, ”kata Catur, menambahkan bahwa tim dari Badan Konservasi Sumber Daya Alam Bengkulu (BKSDA Bengkulu) telah mengambil bangkai untuk penyelidikan lebih lanjut.

Pihak berwenang juga menemukan perangkap kawat yang terletak sekitar 10 meter dari lokasi harimau mati dan bangkai babi busuk di dekat perangkap, yang mungkin digunakan sebagai umpan.

Kapolres Seluma Kombes Sr. I Nyoman Mertha Danta mengatakan mereka telah meluncurkan penyelidikan atas insiden tersebut, yang menurutnya bukan yang pertama dari jenisnya di daerah tersebut.

“Mungkin saja pelaku bukan penduduk lokal Kabupaten Seluma,” katanya, “Tahun lalu, kami juga menangkap seorang pemburu di daerah tetapi mereka bukan dari Seluma.”

Pelaksana BKSDA Bengkulu Mariska Tarantona mengatakan harimau yang mati itu berusia 2 tahun dan belum melahirkan.

“Kami sudah membawa tubuhnya ke kantor. Kami berencana untuk menguburnya setelah mengekstraksi sampel DNA dan mendokumentasikan garis-garisnya, karena tubuhnya membusuk, ”kata Mariska.

Badan tersebut menganalisis garis-garis harimau untuk melihat apakah harimau itu sama dengan harimau Sumatera yang sebelumnya dipantau BKSDA melalui perangkap kamera, katanya.

BKSDA Bengkulu juga berencana untuk meluncurkan operasi penyisiran di Bukit Badas untuk memeriksa apakah perangkap lain telah dipasang oleh pemburu di daerah tersebut.

Harimau Sumatra, satu-satunya spesies harimau Kepulauan Sunda yang masih hidup yang pernah termasuk harimau Bali dan harimau Jawa yang sudah punah, telah terdaftar sebagai spesies yang terancam punah dalam Daftar Merah IUCN (International Conservation of Nature) sejak 2008.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mengeluarkan perkiraan resmi yang mengatakan bahwa, pada Desember tahun 2018, populasi harimau Sumatra tidak lebih dari 600 karena hilangnya habitat dan perburuan.