Jokowi Ingin Lebih Banyak Desa yang Mirip dengan ‘Machu Picchu of Busan’ di Indonesia

Jokowi Ingin Lebih Banyak Desa yang Mirip dengan ‘Machu Picchu of Busan’ di Indonesia – Setelah berjalan-jalan di sekitar desa budaya Gamcheon di kota pelabuhan Korea Selatan, Busan, Presiden Joko “Jokowi” Widodo mengatakan dia ingin lebih banyak desa di Indonesia yang melihat ke daerah kumuh yang menjadi objek wisata sebagai inspirasi untuk pembangunan.

Sebelum menghadiri KTT Peringatan ASEAN-Korea Selatan pada hari Senin, Jokowi dan Ibu Negara Iriana mengunjungi desa bukit pada hari Minggu, yang dijuluki “Machu Picchu of Busan” karena terletak di lereng gunung yang curam.

Presiden beserta istri meluangkan waktu untuk makan beberapa makanan lokal di sebuah kafe di lereng bukit di Gamcheon sambil melihat tata ruang masyarakat bertingkat multi-desa, seperti yang ditunjukkan dalam gambar yang diposting di akun Instagram resmi Jokowi @jokowi.

Meskipun desa bertema seni sekarang menjadi objek wisata, Gamcheon sebenarnya adalah kota kumuh pada 1950-an ketika para pengungsi berbondong-bondong ke sana setelah Perang Korea.

Setelah menjalani transformasi sebagai bagian dari rehabilitasi perkotaan, desa sekarang memiliki rumah-rumah penuh warna yang dibangun dengan mode tangga dan lorong-lorong yang dihiasi dengan mural dan patung, serta ruang pameran dan restoran.

“Saya kira desa-desa di Indonesia juga dapat mengubah diri mereka sendiri dan membangun sesuatu seperti Gamcheon,” kata Jokowi seperti dikutip dalam pernyataan yang dikeluarkan oleh Biro Pers Presiden.

Jokowi mengatakan bahwa ia ingin para pemimpin pemerintahan lokal mengambil desa budaya Gamcheon sebagai “inspirasi” mereka untuk mengubah daerah kumuh menjadi tujuan menarik yang dapat memberdayakan ekonomi lokal.

“Kita bisa mengambil Gamcheon sebagai model dan membuat beberapa modifikasi, tetapi yang paling penting adalah ada program rehabilitasi perkotaan dengan pengembangan masyarakat dan pemberdayaan ekonomi kreatif,” katanya.

Di Indonesia, beberapa daerah yang sebelumnya dianggap daerah kumuh di Pulau Jawa yang paling padat penduduknya telah ditingkatkan menjadi tujuan wisata yang menarik ketika penduduk merapikan lingkungan mereka dan mengecat rumah mereka dengan warna-warna cerah.

Code Village di Yogyakarta, misalnya, dikenal karena kemiripannya dengan favela bukit berwarna-warni di Rio de Janeiro setelah penduduk mengecat rumah dan atap dengan warna-warna cerah. Di masa lalu, desa itu dulunya adalah perkampungan kumuh, tetapi mendiang pastor dan arsitek Katolik Romo YB Mangunwijaya memimpin prakarsa peningkatan untuk mulai merenovasi desa pada 1980-an.

Contoh lain adalah desa Warna-warni (Bogor) di Bogor, Jawa Barat. Tidak hanya rumah-rumah yang dicat dengan warna-warna cerah, penduduk desa juga melukis batu di tepi sungai, mengatur wahana ban dalam di Sungai Katulampa dan mengubah ruang terbuka di desa menjadi perpustakaan dan area permainan tradisional.