Korban Tewas Bertambah Menjadi 35 setelah Kecelakaan Bus di Sumatera Selatan

Korban Tewas Bertambah Menjadi 35 setelah Kecelakaan Bus di Sumatera Selatan – Jumlah korban yang tewas setelah bus jatuh ke jurang di Pagar Alam, Sumatra Selatan, pada Senin malam telah meningkat menjadi 35 orang, kata penyelamat, setelah dua malam misi pencarian dan penyelamatan di daerah tersebut.

Hingga Rabu malam, pihak berwenang telah menemukan tujuh mayat lagi, beberapa di antaranya ditemukan di dalam bus yang terendam dan beberapa di permukaan Sungai Lematang, kata pejabat Badan Penyelamat dan Pencarian Palembang Benteng Telau.

“Ketujuh korban ditemukan tewas dan telah dibawa ke Rumah Sakit Kota Basemah di Pagar Alam,” katanya seperti dikutip Antara.

Benteng mengatakan bahwa identitas dari ketujuh korban telah cocok dengan laporan keluarga yang diterima oleh pihak berwenang pada hari Rabu. Tim diharapkan untuk melanjutkan pencarian pada Kamis pagi.

Mereka mengatakan pencarian pada hari Kamis akan fokus pada area enam kilometer di sekitar lokasi kecelakaan. Tim akan mengikuti aliran sungai ke timur karena masih ada kemungkinan bahwa jumlah korban akan meningkat. Mereka akan mencoba menulusuri daerah yang dekat dengan ditemukannya para korban tersebut.

Tim mengatakan akan segera menyelam ke daerah sekitar bus yang tenggelam. Kemungkinan besar masih ada korban yang tersisa di sungai tersebut.

Menurut Kepolisian Pagar Alam, bus, yang meninggalkan provinsi Bengkulu menuju Palembang, membawa sekitar 50 orang di malam kecelakaan itu.

Pada Senin malam, bus meluncur ke jurang sepanjang 80 meter di samping jalan menanjak dengan tebing tajam dan jatuh ke sungai.

Pihak berwenang masih menyelidiki penyebab pasti kecelakaan itu.

Kepala korps lalu lintas Kepolisian Nasional Insp. Jenderal Istiono mengatakan berdasarkan temuan awal polisi, SIM sopir tidak berlaku sejak 2010.

Bus, yang dioperasikan oleh PT Sriwijaya Pratama Express, telah digunakan selama lebih dari 20 tahun.

“Rute ini terlalu tajam, perlu lebih banyak penerangan dan rambu peringatan untuk mencegah insiden serupa terjadi di masa depan,” kata Istiono.

Sebelum kecelakaan mematikan itu, jepit rambut rute Lematang berbentuk U tempat tragedi itu terjadi telah mengalami kecelakaan serupa.

Pada 2017, keluarga anggota militer Indonesia menjadi korban kecelakaan serupa di daerah tersebut.