Mesir Akan Segera Luncurkan Satelit Komunikasi Pertama

Mesir Akan Segera Luncurkan Satelit Komunikasi Pertama – Mesir akan segera meluncurkan satelit komunikasi pertamanya tepatnya pada hari ini.

Ini merupakan langkah dan merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan infrastruktur komunikasi. Selan itu, langkah ini juga sangat diharapkan untuk dapat menarik investor dari luar.

“Satelit tersebut sudah menyediakan Mesir sistem komunikasi pararel , dan telah dilengkapi jaringan darat yang ada saat ini, serta inftrastruktur telekomunikasi yang sangat kuat,” kata Mohamed Elkoosy, Direktur Eksekutif Badan Antariksa Mesir, dikutip dari Liputan7id, pada hari Sabtu (23/11/2019).

Untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi, kata Elkoosy, juga “bergantung pada jaringan yang kuat.” Selengkapnya, disebutkan bahwa satelit tersebut memiliko bobot sebesar 5,6 ton dan itu merupakan hasil kerjasama antara Airbus dan Thales Alenia Space (TAS). Rencananya satelit itu akan mengorbit sekitar 15 tahun.

Satelit yang bernama Tiba-1 itu akan segera diluncurkan menggunakan roket Arianespace dari Guinea Prancis. Badan Antariksa Mesir memiliki sebuah pusat kendali di Kairo untuk mengoperasikan satelit tersebut.

Satelit Satria Akan Meluncur dengan Roket Falcon 9

Sebelumnya, Direktur Badan Aksebilitas Telekomunikasi dan Informatika (BAKTI), Anang Latif telah mengungkapkan konsorsium Pasifik Satelit Nusantara (PSN) telah memilih roker peluncur Falcon 9 milik Space-X untuk meluncurkan Satelit Indonesia Raya (Satria).

Satelit itu ditargetkan meluncur ke orbit pada akhir 2022. Peluncurannya kemungkinan besar akan segera digekar di Florida, AS.

“Roket peluncurannya sudah diputuskan menggunakan buatan Amerika, Space X, yaitu Falcon 9. PSN sebagai mitra kami juga sudah menetapkan satelit yang akan dipakai adalah buatan Prancis, Thales Alenia Space. Telah dipastikan dua kombinasi ini yang akan kita pakai untuk mendukung Satria,” kata Anang di Jakarta, pada hari Kamis(22/8/2019).

Pembangungan satelitnya, kata Anang, sudah dimulai sejak pertengahan tahun ini. Prosesnya diperkirakan akan berlangsung selama 36 bukan dan ditargetkan selama 36 bulan dan dipastikan akan selesai pada pertengahan tahun 2022. Satria sangat diharapkan dapat mulai beroperasi untuk mendukung konektivitas layanan publik pada 2023.

“Pembangunannya sangatlah rumit karena ini kan berteknologi tinggi dan kira-kira memerlukan waktu sampai 36 bulan untuk dapat selesai. Dengan kapasitas sebesar 150Gbps, satelit ini merupakan satelit pertama di Asia yang sebesar ini. Sejauh ini, targetnya masih oke,” kata Anang.