Myanmar Pindahkan Ibu Kota, Cerita Unik Terkait Usir Hantunya

Myanmar Pindahkan Ibu Kota, Cerita Unik Terkait Usir Hantunya – Ada cerita unik terkait pemindahan ibu kota Myanmar dari Yangon ke Naypyidaw. Sebelum mendirikan bangunan di ibu kota baru, mereka harus memindahkan hantu dan mengusir hantu.

Naypyidaw adalah Rumah Para Raja, berbeda dengan kota lain di Myanmar. Jika dilihat nampak dari kesan padat, kota ini memiliki populasi yang jarang padahal wilayahnya luas. Di sana sama sekali tidak ada kemacetan dan memiliki sedikit bangunan atau atraksi yang bisa dinikmati.

Orang-orang disana sering menjuluki kota ini sebagai kota hantu. Akan tetapi kepercayaan lokal justru sangat mempercayai kota ini sebagai kota hantu yang ditinggalkan hantunya. Kenapa bisa?

Diberitakan dari Liputan7id (14/11/2019), cerita tersebut bermula tahun 2010 disaat Kapten Aung Khant dari militer Myanmar ditugaskan untuk merelokasi pemakaman di Tatkon, salah satu daerah di Nay Pyi Taw. Tujuan relokasi itu adalah untuk menjadikan lahan makam sebagai wilayah pembangunan biara dan pengadilan negeri yang baru

Di Myanmar, merelokasi makam adalah tindakan kontroversial karena keluarga dari orang yang meninggal tidak suka dengan hal tersebut. Namun pada saat itu, rezim militer sedang berkuasa sehingga walaupun orang-orang Tatkon tidak menyukainya, mereka juga tidak dapat untuk melakukan protes. Beberapa penduduk Tatkon pernah mengatakan bahwa pada saat itu, kami ada di bawah penguasaan militer. Kami tidak dapat untuk menolak.”

Selain keluarga yang tidak suka dengan rencana relokasi, penghuni makam alias para hantu di sana juga tidak setuju. Seorang peneliti religi Burma (sebutan untuk Myanmar di kala dulu), Benedict Brac de La Perriere mengatakan, pada Perang Dunia II, Tatkon menjadi tempat dikuburnya para tentara Jepang.

Didalam kepercayaan orang Burma, mereka yang menderita saat menjelang kematiannya akan membuat residu spiritual dimana pemakaman pun tidak akan dapat menebusnya. Penggusuran makam pun menjadi suatu pekerjaan yang berisiko besar.

“Kami sangat takut dengan hantu. Kalau mereka tidak mau pindah, mereka marah. Mereka membahayakan orang-orang kota,” kata Kapten Aung Khant.

Terkait hal itu, Kapten Aung Khant akhirnya segera meminta bantuan dari natsaya, atu yang bisa disebutkan sebagai paranormal yang dapat berkomunikasi dengan hantu di pemakaman Tatkon.

“Pemerintah sudah menyewa truk-truk untuk memindahkan hantu. Lalu mereka mempekerjakan para natsaya untuk melihat dan menggiring hantu menuju truk. sebanyak 12 truk melakukan perjalanan 3 kali sehari, pemindahan berlangsung selama 3 hari,” katanya.

Perhitungan itu tak sembarangan. Total 108 perjalanan itu melambangkan angka keberuntungan dalam numerologi Buddha.

“Ada lebih dari 1.000 makam yang dipindahkan. Total ada 10 hantu atau lebih dalam satu truk,” katanya.

Kapten Aung Khant, menyebutkan bahwa hantu Myanmar ini memiliki ciri khas tersendiri. Tinggi hampir mencapai 2 meter, badannya besar dan terlihat sangat galak, dengan telinga dan gading yang sangat besar serta lidah yang sangat panjang.

Brac de La Parriere mengatakan kalau ini merupakan cerita yang umum tersebar di Myanmar. Pada tahun 1990 , sewaktu dia melakukan penelitian, ia mendengar cerita yang persis mengenai pemindahan makam di Yangon dimana hantu menyebabkan mesin bermasalah, truk berhenti atau bergerak sendiri, dan sopir ketakutan karena hantu itu menolak untuk dipindahkan.

Sejumlah kejadian ganjil juga terjadi selama tiga hari setelah relokasi selesai. Asisten Kapten Aung bermimpi didatangi tiga hantu yang masih tertinggal di pemakaman. Esoknya ia dan kapten mendatangi pemakaman itu dan menemukan tiga makam di bawah semak belukar yang belum direlokasi. Salah satu dari sekian banyak hantu tersebut menolak untuk dipindahkan, ia lalu masuk ke mobil si asisten dan menyebabkan insiden kecil.

Selain itu, buldozer untuk relokasi juga tiba-tiba bermasalah. Banyak kucing yang terdapat di komplek perumahan Komite Pengembangan Naypyidaw juga tiba=tiba ,so. Asisten dari Kapten Aung juga sempat melihat ada tangan hantu yang mendorongnya sampai jatuh dari tempat tidur. Kejadian aneh itu tiba-tiba berhenti begitu saja setelah dia memanggil biksu untuk mengusir arwah penasaran tersebut.

Salah seorang natsaya bernama U Nain La Shwe mengatakan sebelum proses relokasi pemakaman dilakukan dia terlebih dahulu melakukan meditasi di sana. Dia me,n bahwa ia adalah pemuja Ma Phae Wa, roh pembawa peti mati. Roh itu sering datang kepadanya dan bertanya kepadanya apa yang dia butuhkan. Mereka berhubungan baik.

“Dia (Ma Phae Wa) adalah ketuanya. Dia memiliki tanggung jawab atas semua roh di makam lainnya yang terdapat di Myanmar. Dia sangat bersih dan cantik,” katanya.

U Nain La Shwe melihat dan kunjungi tempat untuk , proses relokasi hantu di Tatkon. Diaa menyaksikan hantu-hantu itu berkerumun di truk dan melihat roda truk terjebak di pasir karena tidak kuat menahan beratnya. Disaat natsaya memerintahkan hantu itu untuk turun, lalu l truk itu bisa bergerak lagi.

“Di pemakaman ada hukum yang terpisah,” katanya.

Hukum itu mengharuskan jasa natsaya untuk memahaminya. Natsaya dapat menjembatani antara dunia orang hidup, orang mati, dan dunia roh. Kehidupan masyarakat di NaypyidawKehidupan masyarakat di Naypyidaw. Sekarang Naypyidaw telah menjelma sebagai sebuah kota yang menjadi harapan baru Myanmar sekaligus ibu kotanya di tahun 2006. Di kota hantu tanpa hantu, tidak ada yang perlu ditakutkan.