Pameran Menampilkan Pengaruh Islam pada Batik

Pameran Menampilkan Pengaruh Islam pada Batik – Batik adalah salah satu manifestasi warisan budaya Indonesia yang paling dikenal. Kain pewarna lilin yang terkenal datang dalam banyak motif dan pola yang telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari Indonesia, terutama dalam fashion, apakah itu tradisional atau modern.

Dari pola miring parang klithik Surakarta di Jawa Tengah hingga motif megamendung Cirebon yang mengesankan di Jawa Barat, batik adalah warisan budaya Indonesia yang terbaik.

Salah satu ciri batik yang paling dikenal adalah akulturasi. Bahkan di Jawa, pola batik sangat bervariasi. Ini hasil dari pengaruh budaya Hindu-Budha, Cina dan India, seperti yang terlihat pada batik yang ditemukan di negara-negara lain, seperti Malaysia, Cina dan Afrika, masing-masing dengan bahan dan pola mereka sendiri.

Sebuah pameran yang berlangsung dari 28 hingga 30 November di Perpustakaan Nasional di Jakarta Pusat menampilkan batik yang memiliki pengaruh Islam. Pameran yang berjudul “Inspirasi Islam Pada Batik” ini menunjukkan lebih dari 50 pakaian batik yang dipengaruhi oleh budaya Islam.

Pameran ini dibagi menjadi dua bagian. Pajangan dinding dan pajangan menampilkan batik dari berbagai galeri dan koleksi, memungkinkan pengunjung untuk lebih dekat melihat kain yang dipengaruhi Islam itu sendiri.

Pameran ini juga berisi berbagai pakaian batik: ikat kepala, kain panjang, sarung dan syal. Masing-masing memiliki motif yang berbeda dari daerah yang berbeda, seperti Cirebon, Yogyakarta dan Pekalongan di Jawa Tengah. Setiap motif dilengkapi dengan latar belakangnya masing-masing, semuanya dalam lingkup budaya Islam.

Salah satu contohnya adalah pakaian dari Batang, Jawa Tengah, yang motifnya diciptakan oleh komunitas Islam Rifaiyah di sana.Kurator pameran Benny Gratha mengatakan bahwa komunitas tersebut menciptakan motif yang unik karena mereka secara religius dilarang menggambarkan binatang yang hidup.

“Jadi, bukannya binatang, mereka menghasilkan motif tanaman,” kata Benny saat diwawancarai. “Ketika mereka memiliki motif binatang, mereka digambarkan tanpa kepala untuk menandakan bahwa mereka tidak lagi hidup.”

Selain motif Rifaiyah yang berbeda, ada juga motif batik Islam yang dikenali lainnya yang menampilkan kaligrafi Arab, arab dan pola, serta penggambaran acara-acara Islam penting seperti Isra Mi’raj dan ziarah.

Benny mengatakan batik Jawa memiliki pengaruh Hindu dan Islam. Dia menunjuk ke sebuah pakaian. “Kita dapat melihat di sini ia memiliki pola pengulangan yang tak terbatas, yang menggambarkan sifat Allah,” kata Benny.

Penyelenggara pameran, Dwita Herman, mengatakan pameran ini bertujuan untuk menyampaikan pesan bahwa Islam dapat hidup bersama dengan budaya lain.

Pengaruh Islam pada batik, katanya, seharusnya tidak menjadi penyebab kontroversi. “Itu adalah sesuatu yang indah,” kata Dwita. “Jadi itu seharusnya tidak menjadi masalah argumen atau permusuhan antara satu komunitas dengan komunitas lainnya.”

Anggota panitia pameran, Wijayanti mengatakan, pameran ini diadakan untuk memungkinkan umat Islam di Indonesia mengetahui bahwa batik yang dipengaruhi Islam telah ada di Indonesia selama beberapa waktu.