Personel Militer diduga Menyerang Markas Polisi di Sumatera Utara, melukai enam orang

Personel Militer diduga Menyerang Markas Polisi di Sumatera Utara, melukai enam orang – Sejumlah personil Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang dipersenjatai dengan senapan, diduga menyerang markas Polisi Pahae Julu di Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatra Utara, Kamis sore, yang mengakibatkan enam petugas polisi menderita luka-luka.

Serangan itu diduga diprakarsai oleh personel dari Batalyon Infanteri (Yonif) 123 / RJW dari Komando Militer Bukit Barisan (Kodam) 1. Mereka dikatakan telah menyebabkan kerusakan peralatan di markas polisi.

Juru bicara Kepolisian Sumatera Utara, Ajun Sr. Comr. Anggota Parlemen Nainggolan, mengatakan bahwa serangan itu dipicu oleh miskomunikasi antara polisi dan personil militer pada hari itu.

Sebelumnya pada hari Kamis, beberapa petugas polisi mengatur lalu lintas di jalan trans-Sumatra di desa Silangkitang, Tapanuli Utara, menyusul kecelakaan truk di daerah tersebut.

Sebuah minibus yang mengangkut personil militer memaksa melewati barikade polisi. Petugas kepolisian merespons dengan mencoba menghentikan minibus. Namun, para prajurit di dalam minibus tersinggung dengan apa yang mereka anggap sebagai tindakan polisi yang singkat ketika menghentikan mereka.

Insiden awal diselesaikan, namun, tidak lama setelah itu, beberapa tentara kemudian menyerang markas Polisi Pahae Julu sekitar pukul 2.10 malam.

Nainggolan mengatakan perselisihan itu dibawa di bawah contral setelah kedua belah pihak melalui mediasi.

“Selesai. Tidak ada lagi masalah, ”kata juru bicara kepolisian kepada The Jakarta Post, mendesak semua pihak untuk menahan diri.

Dia menambahkan bahwa petugas polisi yang terluka telah dirawat di rumah sakit terdekat, sementara kerusakan pada bangunan telah diperbaiki. Nainggolan menolak desas-desus bahwa senapan ditembakkan selama serangan itu.

Kepala Kepolisian Sumatera Utara Insp. Jenderal Martuani Sormin Siregar mengatakan situasi sekarang sudah terkendali. “Personel militer yang diduga terlibat dalam serangan itu sekarang sedang diselidiki oleh polisi militer.”

Juru bicara Bukit Barisan Kodam Kolonel Zeni Djunaidhi mengatakan TNI telah membentuk tim untuk menyelidiki kasus ini dan telah meminta klarifikasi dari personil militer dan petugas polisi yang terlibat dalam pertengkaran di desa Silangkitang. Dia menegaskan bahwa TNI tidak akan pernah mentolerir personel yang nakal.

“Militer Indonesia berkomitmen untuk memastikan bahwa tentara yang diduga terlibat dalam perselisihan ini dibawa ke pengadilan tanpa impunitas. Setiap orang yang terbukti bersalah dalam kasus ini akan dihukum berdasarkan kesalahan masing-masing, ”kata Zeni.