Rusuh di Ibu Kota Presiden Cile Mendeklarasikan Keadaan Darurat

Rusuh di Ibu Kota Presiden Cile Mendeklarasikan Keadaan Darurat – Presiden Cile Sebastian Pinera mendeklarasikan keadaan darurat di ibu kota Santiago pada Sabtu (19/10) saat kota itu dilanda kerusuhan dan kekacauan. Para pengujuk rasa mulai membakar gedung-gedung dan sistem kereta metro lumpuh. Demonstran yang menggunakan pakaian hitam memproses kenaikan tarif transportasi publik dengan membakar stasiun metro.

“Para demonstran juga menjarah toko-toko, membakar bus umum dan mengganjal pintu-pintu putar di stasiun kereta yang sedang padat pada Jumat (18/10) siang,” ujar saksi mata, tayangan televisi.

Sebastian Pinera berbicara untuk mendeklarasikan keadaan darurat saat sirine berbunyi sepanjang malam di pusat kota pada Sabtu (19/10).

Pihak kepolisian dan pemadam kebakaran mengambil tindakan cepat untuk mengendalikan kebakaran dan kekacauan yang terjadi

“Kami mengambil kendali, mengerahkan pasukan kami sedemikian rupa sehingga kami dapat mencegah tindakan vandalisme yang berkelanjutan dan memiliki perasaan yang lebih baik di pagi hari tentang apa yang terjadi.”

Pengumuman status darurat itu disampaikan Pinera yang berwajah muram tak lama setelah tengah malam datang menyusul kerusuhan hebat selama 12 jam di pusat kota.

Demonstran bentrok dengan polisi yang menggunakan gas air mata dan meriam air untuk membubarkan mereka. Petugas pemadam kebakaran dan angkutan umum mengatakan bahwa stasiun kereta, bus, dan kantor pusat perusahaan utilitas listrik Enel dibakar para demonstran.

“Dalam beberapa hari, pemerintah akan menyerukan dialog untuk mengatasi penderitaan mereka yang terkena dampak kenaikan tarif,” ujar Pinera saat pidato yang disiarkan televisi nasional, dilansir Reuters.

Di Amerika Latin Cile menjadi salah satu negara kaya, tapi juga memiliki kesenjaan sosial yang tinggi.

Akibat naiknya biaya hidup di Santiago menjadi isu politik dan memicu reformasi di semua bidang, muladi dari aturan tenaga kerja dan pajak hingga sistem pensiun.

Polisi mengatakan kepada Reuters bahwa pada Jumat saja, 156 polisi telah terluka, termasuk lima yang berada dalam kondisi serius. Empat puluh sembilan mobil polisi rusak, 41 stasiun metro dirusak dan 308 orang ditahan.

Keputusan untuk mengerahkan militer disambut Keterkejutan yang meluas di Chile, negara yang hidup di bawah kediktatoran militer selama 17 tahun hingga 1990.

Lucia Dammert, seorang ahli keamanan publik di Universitas Santiago, menulis di Twitter bahwa ketika ada tank di jalan-jalan “kita semua telah kalah.”

“Keadaan darurat adalah langkah terakhir, pemerintah memiliki banyak alat lain yang tersedia untuk menenangkan keadaan,” katanya.