Sebagian Orang yang Bekerja serta Sangat Rentan Penularan Virus Corona

Sebagian Orang yang Bekerja serta Sangat Rentan Penularan Virus Corona – Presiden Joko Widodo telah menganjurkan warga untuk melakukan social distancing atau menjaga jarak sosial. Pola ini artinya, untuk membatasi kontak-kontak fisik yang sama sekali tidak perlu demi mengerem laju penyebaran virus corona jenis baru (SARS-CoV-2).

Lantas itu maka kebijakan belajar dan bekerja dari rumah pun ditempuh. Walaupun begitu, ada beberapa jenis pekerjaan yang sama sekali tidak memungkinkan penerapan sistem tersebut. Dan karenanya, orang dengan berprofesi itu jadi semkin rentan lantaran kontak fisik yang tidak terhindarkan.

Mengutip laporan New York Times, Departemen Tenaga Kerja mengolah data untuk mendapatkan jenis-jenis profesi yang lebih rentan dengan paparan bakteri juga virus–termasuk virus corona penyebab Covid-19.

Beberapa aspek jadi faktor penentu mulai dari seberapa sering profesi itu mengharuskan pekerja mengangkat telepon hingga perkara intensitas membungkuk seperti pekerja kebersihan

Hasilnya, tenaga medis merupakan profesi yang paling berisiko. Bukan saja karena kedekatan kontak dengan orang lain, melainkan juga lantaran para pekerja medis, dokter, perawat, hingga pegawai administrasi di rumah sakit, saban harinya telah menjumpai orang-orang dengan masalah kesehatan. Kedekatan dengan pasien ini mau tidak mau dapat meningkatkan risiko serangan penyakit tertentu.

Yang juga rentan adalah para perawat lansia, baik itu di panti jompo ataupun perawat di rumah-rumah. Terlebih juga ada korban meninggal di sebuah rumah perawatan atau nursing home di negara bagian Washington, akibat Covid-19.

Petugas baris depan juga memiliki risiko tinggi. Beberapa profesi jenis ini adalah mereka yang harus selalu siaga setiap kali warga membutuhkan bantuan. Itu sebab pula, kontak dekat dengan banyak orang acap tidak terhindarkan. Misalnya, bila berpatok pada laporan New York Times, beberapa profesi di antaranya polisi, pemadam kebakaran dan paramedis. Dalam kasus pandemi corona misalnya, paramedis di seluruh negara turut mengambil peran pencegahan ekstra demi meredam penyebaran kasus.

Selanjutnya, adalah para pekerja di sektor jasa seperti kasir dan pelayan restoran cepat saji. Masih berdasar laporan yang sama, pengelola Walmart, Starbucks hingga Uber disebut mencatatkan bahwa beberapa pekerja mereka jatuh sakit.

Sesungguhnya yang jadi sorotan bukan hanya soal jenis pekerjaan yang membuat kelompok tersebut masuk kelompok rentan, tapi juga perkara ketersediaan jaminan. Misalnya, apakah mereka diberikan pilihan untuk cuti sakit namun tetap dibayar. Sebab sebagian pekerja dengan intensitas kontak fisik yang tinggi dan lebih rentan terpapar virus, justru tak punya pilihan itu.

Adal lagi hal lain yang juga lebih penting, yaitu adalah kepastian jaminan asuransi kesehatan.

Beberapa perusahaan memang telah meminta seluruh karyawan untuk bekerja dari rumah. Namun kebijakan ini hanya berlaku untuk para pekerja kerah putih. Sedangkan sebagian pekerjaan lain tak memungkinkan itu, termasuk para petugas baris depan dan pekerja kelas bawah.

Anggota legislatif di sana disebut telah mengeluarkan bantuan berupa bayaran cuti sakit bagi pekerja yang terinfeksi Covid-19. Tapi kebijakan ini pun hanya berlaku bagi pekerja di perusahaan dengan kurang dari 500 karyawan. Sedangkan masih tersisa jutaan pekerja lain yang tak beroleh perlindungan.

Bagi sebagian pekerja–utamanya mereka yang diupah rendah–dirumahkan bisa berarti PHK. Karena cuti darurat ini berarti tak bekerja dan artinya, pekerja tak beroleh upah.

Di Indonesia, belum ditemukan data ataupun analisis spesifik mengenai kerentanan tersebut.

Sedangkan Kementerian Ketenagakerjaan sedang mengkaji aturan mengenai gaji penuh bagi karyawan yang direkomendasikan bekerja dari rumah. Sama sekali tidak ada alasan untuk pengusaha yang memotong gaji karyawan yang sedang bekerja dari rumah demi mencegah penyebaran virus corona.

Sedangkan untuk Federasi Buruh Lintas Pabrik telah mengklaim ada jutaan buruh industri padat karya di Indonesia yang masih harus tetap bekerja seperti biasa. Kondisi ini bisa menyebabkan seluruh buruh rentan untuk terinfeksi dan merasa terancam keselamatannya.

“Kerja berdempetan dalam satu ruangan untuk waktu yang lama, tanpa disediakan masker dan sanitizer, tak leluasa mengeluhkan sakit karena terancam kehilangan pekerjaan” ungkap Ketua Umum Federasi Lintas Pabrik (FBLP), Jumisih dalam keterangan tertulis yang diterima