Sepuluh Petugas Satpol PP Dipecat Setelah Diduga Mencuri Rp 32 Miliar dari Bank DKI

Sepuluh Petugas Satpol PP Dipecat Setelah Diduga Mencuri Rp 32 Miliar dari Bank DKI – Sepuluh dari 12 personel Badan Urusan Umum Jakarta (Satpol PP) yang dituduh mencuri uang dari ATM yang dikaitkan dengan pemberi pinjaman milik kota Bank DKI telah diberhentikan dari pekerjaannya tersebut.

Mereka diduga mencuri total Rp 32 miliar (US $ 2,27 juta) dari ATM karena mereka terus menarik uang tunai selama tiga bulan berturut-turut ketika mereka melihat saldo rekening mereka tidak berkurang setelah menggunakan ATM.

“Dari 12 personel, 10 adalah karyawan tidak tetap. Mereka telah dipecat,” kata kepala unit kontrol Dinas Tenaga Kerja Jakarta, Wahyono, Kamis, seperti dikutip oleh Liputan7ID.

10 personel secara resmi diberhentikan dari posisi mereka di agensi pada hari Selasa. Dia mengatakan dua perwira yang tersisa adalah pegawai negeri sipil dan bahwa keputusan apakah akan memecat mereka tergantung pada investigasi Kepolisian Jakarta yang sedang berlangsung, di mana kedua perwira itu saat ini hanya saksi.

“Jika mereka ditetapkan sebagai tersangka, kami akan menjadikan mereka tidak aktif untuk sementara waktu. Jika kasusnya sampai ke pengadilan dan menghasilkan putusan tertentu, maka kami dapat memutuskan apakah akan memecat mereka atau tidak,” tambahnya.

Juru bicara Kepolisian Jakarta Komisaris Besar Yusri Yunus mengatakan mereka telah memanggil 41 orang untuk diinterogasi tetapi hanya 25 yang muncul pada hari Jumat.

“Berdasarkan penyelidikan awal kami, ada dugaan 41 orang yang melakukannya (secara ilegal menarik uang dari ATM). Kami telah memanggil mereka semua, tetapi hanya 25 yang memenuhi permintaan kami untuk ditanyai,” kata Yusri pada hari Jumat, seperti dikutip oleh Liputan7ID.

“Tidak semua dari mereka adalah petugas Satpol PP,” tambahnya.

Polisi belum menyebutkan nama tersangka karena mereka secara bersamaan menyelidiki kemungkinan kesalahan dalam sistem ATM. Gubernur Jakarta Anies Baswedan meminta polisi untuk menyelidiki insiden tersebut secara menyeluruh.

“Semua kejahatan harus diproses secara hukum, apa pun yang terjadi,” kata Anies, Selasa.

Sebelumnya, kepala Badan Satpol PP Arifin mengatakan bahwa agensi tersebut telah membuka penyelidikan internalnya sendiri dalam kasus ini dan telah memeriksa beberapa tersangka.

“Berdasarkan informasi yang saya terima dari mereka, mereka menarik uang dari ATM tetapi kemudian menyadari bahwa saldo di rekening mereka tetap tidak berubah. Jadi mereka melakukannya lagi,” katanya.

“Mungkin saja mereka hanya bingung, jadi itu sebabnya mereka terus (menarik uang) berulang-ulang,” tambahnya.

Para petugas dilaporkan terus menarik uang tunai antara Mei dan Agustus tahun ini hingga bank memperhatikan kerugian sekitar Rp 32 miliar.

Arifin mempertanyakan bagaimana sistem keamanan Bank DKI memungkinkan kejadian itu terjadi, ia bertanya-tanya mengapa bank hanya melaporkan penyimpangan berbulan-bulan setelah peristiwa itu terjadi.

“Mengapa (Bank DKI) membuat keributan sekarang? Juga, saya mempertanyakan sistem keamanan mereka. Para petugas menerima gaji mereka melalui Bank DKI, jadi mereka menarik uang tunai tetapi saldo mereka tetap tidak berubah,” katanya.

Menanggapi insiden itu, sekretaris perusahaan Bank DKI Herry Djufraini mengatakan kasus itu bukan pencurian dan tidak memengaruhi akun lain.

“Ketika kasus ini muncul, kami segera berkoordinasi dengan polisi,” katanya dalam sebuah pernyataan.