Terjadi Ledakan di Monas Jakarta

Terjadi Ledakan di Monas Jakarta – Sebuah ledakan terjadi di Monumen Nasional (Monas) di Jakarta Pusat pada Selasa pagi, mengejutkan banyak orang karena kompleksnya berada di dekat Istana Negara dan kantor-kantor pemerintah.

Laporan awal dari Kompas TV menyebutkan bahwa dua anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI) terluka dalam ledakan itu dan langsung dibawa ke rumah sakit.

Juru bicara Kepolisian Nasional Mr. Comr. Argo Yuwono mengkonfirmasi insiden itu. Dia mengatakan daerah itu telah dibersihkan untuk penyelidikan tidak lama setelah itu.

Taman-taman di dalam area Monumen Nasional biasanya digunakan untuk, antara lain, rekreasi, olahraga dan pertemuan oleh anggota masyarakat.

Kompleks monumen itu sendiri dikelilingi oleh sejumlah gedung kantor kementerian dan kantor pusat lembaga negara, markas besar Angkatan Darat dan gedung Mahkamah Agung.

Sehari sebelum ledakan terjadi, daerah itu adalah tempat berkumpulnya para aktivis Muslim yang memperingati peringatan ketiga peringatan 2 Desember 2016 yang diadakan untuk menuntut penuntutan gubernur Jakarta saat itu Basuki “Ahok” Tjahaja Purnama untuk penistaan

Granat asap meledak di Taman Monumen Nasional

Sebuah alat meledak pada Selasa pagi di ujung utara kompleks Monumen Nasional (Monas), melukai dua personil militer. Polisi kemudian mengkonfirmasi bahwa granat asap adalah penyebab ledakan kecil itu.

Apa yang menyebabkan ledakan itu?

Kepala Kepolisian Daerah Khusus Ibukota Jakarta Inspektur Jenderal Gatot Eddy Pramono dalam sebuah konferensi pers mengkonfirmasi bahwa ledakan terjadi sekitar pukul 07.15 pagi.

Lokasi ledakan berada di sisi utara kompleks monumen di seberang Kementerian Dalam Negeri di Jalan Medan Merdeka Utara sekitar 400 meter dari kantor Presiden Joko “Jokowi” Widodo di Istana Negara.

“Tim kami di TKP menemukan bahwa ledakan itu tampaknya disebabkan oleh granat asap,” kata Gatot.

Granat itu ditemukan oleh dua anggota pasukan militer, Sersan Mayor. Fajar dan Kepala Prajurit Gunawan, ketika mereka sedang melakukan latihan pagi hari dengan personil TNI lainnya di daerah tersebut. Kedua korban telah dibawa ke Rumah Sakit Angkatan Darat Gatot Subroto untuk perawatan.

Juru bicara Kepolisian Jakarta, Tuan Comr. Yusri Yunus mengatakan secara terpisah mengatakan bahwa granat asap biasanya digunakan untuk latihan oleh petugas keamanan dan bahwa perangkat itu kekuatannya rendah, mirip dengan petasan.

“Seperti petasan, granat asap tidak berbahaya jika meledak di kejauhan, tetapi jika ledakan terjadi ketika kita memegangnya, tangan akan terbakar,” katanya.

Mengapa ada granat di sana?

Pihak berwenang masih menyelidiki mengapa granat itu ada di sana. Tim-tim dari regu bom Gegana polisi, serta dari Unit Sistem Identifikasi Sidik Jari Indonesia Otomatis (Inafis), telah dikerahkan untuk menyelidiki lokasi ledakan.

Gatot membuka kemungkinan bahwa granat asap “bisa menjadi” milik petugas keamanan yang kebetulan “meninggalkannya di sana” secara tidak sengaja ketika ia meminta anggota masyarakat untuk tidak membesar-besarkan insiden itu, yang menurutnya “biasa”.

Dia mengatakan bahwa masyarakat masih bisa melakukan kegiatan rutin di Monas dan menyuruh orang untuk tetap tenang. Sementara itu, Yusri mengatakan bahwa pihak berwenang akan bertanya kepada dua korban tentang insiden itu sesegera mungkin setelah mereka mendapatkan perawatan darurat untuk cedera mereka.

Ketika ditanya apakah granat itu milik petugas keamanan, Yusri mengatakan: “Kami masih tidak tahu mengapa para saksi juga adalah korban dan mereka masih di rumah sakit.”

Berdasarkan pengamatan, garis polisi di tempat ledakan telah dihapus pada pukul 10:30 pagi. karena pihak berwenang telah menyelesaikan penyelidikan mereka di sana. Sejak itu area tersebut dibuka untuk umum dan lalu lintas di Jalan Merdeka Utara telah kembali normal.

Apakah keamanan ditingkatkan setelah insiden itu?

Meskipun jarak yang dekat antara daerah tempat ledakan terjadi dan kantor Jokowi, Istana Negara mengatakan bahwa tidak akan ada langkah-langkah keamanan tambahan untuk pemimpin negara karena Detail Keamanan Presiden (Paspampres) akan bekerja seperti biasa.

Komandan Paspampres, Mayor. Jenderal Maruli Simanjuntak mengatakan bahwa anggota detail keamanan telah menerapkan langkah-langkah yang dapat mengantisipasi insiden semacam itu dalam operasi sehari-hari. “Kami sudah cukup kuat,” katanya.

Juru bicara kepresidenan Fadjroel Rachman mengatakan Jokowi melanjutkan jadwalnya seperti biasa di Istana Negara, mengadakan pertemuan dengan para menteri dan mempersiapkan kuliah kepresidenan yang dijadwalkan 2 p.m. pada hari Selasa.

Jokowi sendiri mendengar tentang ledakan dari media dan menyerukan kepada penegak hukum untuk “mengambil tindakan tegas” jika seseorang dinyatakan bersalah melakukan insiden itu, tambahnya.

Secara terpisah, Yusri mengatakan polisi masih menyelidiki ledakan untuk menentukan apakah itu terkait dengan terorisme. “Kami masih mencari masalah itu,” katanya.